Program

Teks Kuratorial

Nandur Srawung XI mengangkat tema “Legacy: Wasiat,” sebuah pameran yang menyoroti warisan seni rupa dari para seniman pendahulu yang telah memberikan kontribusi signifikan pada sejarah bangsa Indonesia dan dunia seni rupa itu sendiri. Pameran ini tidak hanya merayakan karya-karya seni yang menginspirasi tetapi juga mengeksplorasi bagaimana warisan tersebut mempengaruhi seniman-seniman masa kini dalam berbagai aspek sosial, budaya, dan artistik. Baca lebih lanjut! 

Kurator

Arsita
Pinandita

Bayu
Widodo

Irene
Agrivina

Rain
Rosidi

Sudjud
Dartanto

Diselenggarakan oleh

Mitra Media

Nandur Srawung XI: Legacy - Wasiat 

Nandur Srawung XI mengangkat tema “Legacy: Wasiat,” sebuah pameran yang menyoroti warisan seni rupa dari para seniman pendahulu yang telah memberikan kontribusi signifikan pada sejarah bangsa Indonesia dan dunia seni rupa itu sendiri. Pameran ini tidak hanya merayakan karya-karya seni yang menginspirasi tetapi juga mengeksplorasi bagaimana warisan tersebut mempengaruhi seniman-seniman masa kini dalam berbagai aspek sosial, budaya, dan artistik.

Menggali Warisan Seni

Pada setiap periode dalam sejarah bangsa Indonesia, selalu ada seniman-seniman yang meninggalkan jejak mendalam, baik melalui karya seni mereka maupun melalui pemikiran dan metode berkarya yang mereka kembangkan. Warisan ini menjadi fondasi penting yang membentuk perkembangan seni rupa di Indonesia. Para seniman ini telah menanamkan benih-benih kreativitas dan kebebasan berekspresi yang terus tumbuh dan berkembang di tangan seniman-seniman generasi berikutnya.

Pameran ini mengundang para seniman untuk mengajukan karya-karya yang mengambil inspirasi dari warisan para pendahulu, baik dalam hal pemikiran, metode berkarya, maupun gagasan artistik. Setiap karya yang dipamerkan adalah sebuah dialog antara masa lalu dan masa kini, sebuah cara untuk menghormati dan melanjutkan jejak para pendahulu dalam konteks zaman yang terus berubah.

Menghidupkan Kembali Pemikiran dan Metode

Seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini didorong untuk mengeksplorasi warisan seni dengan cara yang inovatif dan pribadi. Mereka diajak untuk tidak hanya meniru, tetapi juga menafsirkan ulang dan menghidupkan kembali pemikiran dan metode para pendahulu dalam konteks kekinian. Ini termasuk bagaimana mereka menghadapi isu-isu sosial, budaya, dan politik pada zamannya, serta bagaimana mereka menggunakan medium dan teknik seni untuk menyampaikan pesan-pesan mereka.

Wasiat Seni dalam Konteks Kontemporer

Pameran ini juga menjadi wadah untuk refleksi dan diskusi mengenai relevansi warisan seni dalam menghadapi tantangan-tantangan kontemporer. Bagaimana warisan dari seniman-seniman terdahulu dapat membantu kita memahami dan merespons isu-isu global saat ini, seperti krisis kemanusiaan, ketidakadilan sosial, dan perubahan geopolitik? Para seniman diundang untuk menjawab pertanyaan ini melalui karya-karya mereka, menjadikan pameran ini sebuah dialog interaktif antara generasi.

Aplikasi Terbuka bagi Seniman

Aplikasi ini membuka peluang bagi para seniman untuk mengirimkan karya seni yang telah mereka hasilkan dalam dua tahun terakhir, yang terhubung dengan warisan para seniman pendahulu. Nilai-nilai, gaya seni, dan gagasan yang diwariskan ini dikelompokkan berdasarkan dekade, mulai dari tahun 1945 hingga 2015. Jejak sejarah para seniman menjadi sumber pemikiran dan kreativitas yang memberikan kontribusi penting melalui karya dan ide-ide mereka.

Setiap periode waktu mencerminkan konteks zaman di mana para seniman berusaha memberikan kontribusi melalui seni dan pemikiran mereka. Dari peristiwa-peristiwa dan karya-karya yang dihasilkan, beberapa tema telah diidentifikasi sebagai rujukan untuk menginspirasi karya seniman masa kini. Aplikasi ini mengajak para seniman untuk menghubungkan karya mereka dengan warisan artistik yang kaya dan beragam dari para pendahulu, menciptakan dialog kreatif antara masa lalu dan masa kini. Pembagian periode ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman terhadap nilai-nilai dan semangat yang dapat ditautkan dengan karya-karya seniman masa kini. Pembagian tersebut tidak dimaksudkan untuk merumuskan periodisasi sejarah, namun sebagai upaya memberikan gambaran umum mengenai praktik pewarisan tersebut. Sesuai dengan tawaran aplikasi ini, pameran akan dibagi menjadi beberapa kluster, yaitu:

1. Bangsa Merdeka dan Rayuan Pulau Kelapa (1945 – 1955)

Pada periode 1940-1950, Indonesia mengalami fase penting dalam membangun kesadaran nasionalisme dan identitas sebagai bangsa merdeka. Ini adalah masa puncak perjuangan melawan kolonialisme dan revolusi fisik, yang mendorong semangat kemerdekaan di kalangan rakyat Indonesia. Kesadaran nasionalisme tumbuh subur di kalangan seniman seperti S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Emiria Soenassa, dan AƯandi, yang melalui karya-karya mereka menggambarkan perjuangan dan kondisi sosial rakyat Indonesia, serta menyuarakan aspirasi kemerdekaan.

Di sisi lain, kekaguman terhadap keindahan alam Indonesia, yang sering disebut “Hindia Molek,” juga menginspirasi banyak seniman. Seniman seperti Basar Idjonati, Basoeki Abdullah, dan Wakidi menciptakan karya yang menonjolkan pesona alam tropis Indonesia. Kedua sisi ini—kesadaran nasionalisme dan kekaguman terhadap keindahan alam—berinteraksi dan berdinamika dalam karya seni rupa Indonesia pada masa itu. Para seniman tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga menciptakan estetika yang menciptakan dialog antara semangat kebangsaan dengan keindahan alam, meninggalkan jejak fondasi penting bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Hingga saat ini karya-karya yang mengambil jejak dari para seniman masa itu dapat ditemukan pada karya-karya seniman mutkahir. Para seniman banyak yang mengambil gagasan mengenai kebangsaan dan keindahan alam Indonesia pada karya-karya masa kini.

2. Suara Rakyat dan Gelanggang Warga Dunia (1955-an hingga 1965)

Pada periode 1950 hingga 1960, visi estetik nasionalisme kerakyatan semakin merebak di kalangan pelukis Indonesia berkat munculnya berbagai sanggar seni seperti Seniman Indonesia Muda (S.I.M), Pelukis Rakyat, dan Sanggar Bumi Tarung. Sanggar-sanggar ini menjadi pusat perkembangan seni rupa yang berfokus pada nilai-nilai kerakyatan dan nasionalisme. Beberapa karya yang menonjol dari periode ini termasuk “Kawan-Kawan Revolusi” karya S. Sudjojono, “Laskar Rakyat Mengatur Siasat” karya AƯandi, dan “Pengantin Revolusi” karya Hendra Gunawan, yang mencerminkan semangat perjuangan dan kondisi sosial rakyat Indonesia. Memasuki era 1960-an, visi estetik kerakyatan dalam seni lukis menjadi sangat dominan, terutama ketika kesenian mulai digunakan sebagai alat persaingan politik. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) mempropagandakan realisme sosialis yang sejalan dengan Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) dan Manipol (Manifesto Politik) di masa “Demokrasi Terpimpin”. Figur vokal seperti S. Sudjojono mendorong perubahan gaya ke realisme untuk mencerminkan kehidupan rakyat dan memudahkan komunikasi dengan masyarakat. Perubahan gaya Sudjojono menuju “realisme nasi” menandai pentingnya fungsi komunikatif dalam seni, membuka jalan bagi wacana realisme sosialis. Karya-karya dari periode ini, seperti “Pekerja yang Membangun Kota” karya Amrus Natalsya dan “Tuan Tanah Kawin Muda” karya Djoko Pekik, menonjolkan ekspresi rakyat, potensi perlawanan, dan konflik sosial. Selain lukisan, media seperti poster dan patung juga berperan dalam menyebarkan ideologi tersebut.

Di sisi lain, organisasi Gelanggang yang didirikan pada tahun 1946 oleh Mochtar Apin bersama Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan Baharuddin Marasutan, muncul sebagai wadah bagi seniman Indonesia yang memperjuangkan modernitas dan kebebasan berekspresi dalam seni. Gelanggang berperan penting dalam lanskap seni rupa Indonesia, terutama dalam era pasca-kemerdekaan, di mana kebutuhan untuk merumuskan identitas budaya nasional yang baru sangat kuat dirasakan. Mochtar Apin, salah satu pendiri Gelanggang, adalah seorang pelukis, ilustrator, penulis, dan pengajar seni rupa di Institut Teknologi Bandung. Dalam karya-karyanya, Apin sering mengusung gaya kubisme dan ekspresionisme abstrak, dua aliran seni yang sangat mencerminkan semangat modernitas dan inovasi. Gelanggang bukan hanya sebuah organisasi seni, tetapi juga sebuah gerakan yang menekankan pentingnya kebebasan individu dalam berkarya dan berekspresi. Anggotanya berusaha melampaui batasan-batasan tradisional, baik dalam teknik maupun tema, untuk menciptakan karya-karya yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Mereka menganggap bahwa seniman harus bebas dari segala bentuk tekanan, baik dari pemerintah maupun masyarakat, untuk menciptakan karya seni yang jujur dan otentik. Melalui Gelanggang, Mochtar Apin dan rekan-rekannya mendorong dialog dan pertukaran ide yang dinamis, baik di antara seniman Indonesia sendiri maupun dengan seniman dari berbagai belahan dunia. Mereka memandang kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia, dengan hak yang sah untuk berkontribusi dan berinteraksi dalam kancah seni global.

3. Lantunan Lirisisme dan Perayaan Bentuk (1965-1975)

Periode lantunan lirisisme dan perayaan bentuk, yang berlangsung sekitar tahun 1960-1970, merupakan babak penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Paska tahun 1965, terjadi perubahan besar dalam panorama seni rupa Indonesia, di mana paradigma seni kerakyatan mulai mengendur, dan humanisme universal menjadi semakin dominan di ranah seni dan kebudayaan.

Landasan paradigma humanisme universal membawa lahir pendekatan seni yang dikenal sebagai lirisisme. Pendekatan ini menonjolkan kesadaran akan kebebasan manusia dan kreativitas dalam penciptaan karya seni. Ungkapan-ungkapan seni yang muncul dari pendekatan ini cenderung abstrak, intuitif, imajinatif, dekoratif, dan improvisatif, dengan tetap menyatukan elemen-elemen tradisional dengan ekspresi modern.

Jejak pendekatan seni ini sudah mulai terlihat sejak masa Seniman Indonesia Muda (S.I.M), di mana seniman seperti Oesman EƯendi (OE), Zaini, Nashar, dan Rusli, telah memperkenalkannya. Namun, momentumnya semakin pesat pasca 1965, didukung oleh langkah-langkah pemerintah dalam mendirikan akademi seni dan pusat-pusat kesenian. Konsensus kultural juga menekankan pentingnya seniman untuk mempertahankan identitas lokal-nasional dalam karya-karya mereka.

Beberapa seniman yang menonjol dalam periode ini antara lain Amang Rahman, Ahmad Sadali, Abas Alibasyah, Fadjar Sidik, Widayat, dan Srihadi Soedarsono. Karya-karya mereka menampilkan transisi abstrak dari elemen alam dan tradisi, menandai kehadiran lirisisme dalam seni rupa Indonesia. Generasi baru seniman seperti Umi Dahlan, Sunaryo, Nyoman Tusan, hingga Made Wianta, turut memberikan sumbangsih dalam mengembangkan dan memperkaya wacana seni rupa lirisisme di Indonesia.

Periode lirisisme dan perayaan bentuk ini menggambarkan dinamika yang kaya dalam evolusi seni rupa Indonesia, serta menjadi pijakan penting bagi perkembangan seni rupa di masa-masa selanjutnya.

4. Menggali Akar dan Mendobrak Batas (1975-an hingga 1985-an)

Pada periode ini, banyak seniman kembali melakukan pencarian terhadap gaya tradisional seperti lukisan dekoratif dan memperkaya karya-karya mereka dengan falsafah lokal. Tokoh-tokoh seperti Widayat dan G. Sidharta Soegijo menjadi representasi dari kecenderungan ini, menggabungkan idiom tradisional dalam karya-karyanya untuk menghadirkan narasi yang kaya akan makna dan nilai budaya.

Di samping itu, era ini juga menyaksikan munculnya Gerakan Seni Rupa Baru yang mendobrak praktik seni yang dianggap stagnan karena dominasi gaya dekoratif dan formalisme. Gerakan ini bertujuan untuk membebaskan seni dari keterbatasanketerbatasan tersebut, dan memulai penjelajahan baru terhadap media seni yang tidak lagi terikat pada gaya atau medium tertentu. Inovasi dalam penggunaan media dan pendekatan baru terhadap ekspresi artistik menjadi ciri khas dari Gerakan Seni Rupa Baru, yang menandai era keberanian dan eksperimen dalam seni rupa Indonesia.

5. Pengembara di Dunia Mental dan Mimbar Bebas (1985-an hingga 1995-an)

Pada era 1980-an hingga 1990-an, seni rupa menyaksikan lahirnya aliran-aliran baru yang muncul sebagai respons terhadap setting sosiopolitik yang ada. Pertanyaan mendasar seperti bagaimana aliran seni ini muncul, apa agen yang melahirkannya, dan kepentingan apa yang diadvokasi, menjadi pokok pembicaraan. Di tengah kompleksitas ini, seni lukis surealis Yogyakarta menjadi salah satu bahasa yang paling baik dalam menyuarakan situasi kehidupan sosial, budaya, dan politik di Yogyakarta pada paruh kedua 1980-an dan awal 90-an. Karya-karya surealis Yogyakarta merekam periode kehidupan yang dipenuhi perubahan dan beragam artefak budaya, sekaligus mencerminkan gagasan-gagasan yang terkait dengan modernisasi dan globalisasi.

Beberapa seniman di Yogyakarta, seperti Ivan Sagita dan Lucia Hartini, dikenal sebagai tokoh surealisme Jogja yang mencerminkan realitas sosial dan budaya melalui karya-karya mereka. Di luar gaya surealisitik yang rigid dan penuh ketelitian muncul seniman lain seperti Entang Wiharso, Pupuk DP, Nasirun, dan sebagainya yang menggabungkan idiom tradisi, dunia mimpi, dalam goresan ekspresif untuk mengomentari situasi kontemporer.

Tidak hanya itu, sejumlah seniman juga menggunakan seni sebagai sarana untuk mengomentari dan melakukan protes terhadap penguasa secara terbuka. Karyakarya dari seniman seperti Semsar Siahaan, FX Harsono, Dadang Christanto, Moelyono, yang kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya seperti Komunitas Taring Padi, menjadi wujud konkret dari ekspresi seni sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan.

6. Seni Publik dan Media Baru (1995-an hingga 2005-an)

Pada era 1995-an hingga 2005-an, seni rupa mengalami gelombang semangat independen yang sejalan dengan munculnya gerakan masyarakat madani pasca reformasi politik di Indonesia. Industri budaya menyaksikan berkembangnya jaringan independen dalam berbagai bidang seperti komik, musik, dan film. Dalam konteks seni, semangat independen ini juga merambah ke ranah publik dengan munculnya seni rupa publik, yang diwujudkan misalnya oleh Apotik Komik.

Selain itu, era ini menjadi momentum bagi penjelajahan terhadap medium-medium baru dalam seni rupa, seperti video, fotografi, seni instalasi, dan seni pertunjukan. Heri Dono adalah seorang seniman dengan praktik seni yang lintas mediu, dari lukisan, instalasi, pertunjukkan, seni bunyi dan sebagainya. Krisna Murti, sebagai perintis video art di Indonesia, membuka jalan bagi munculnya seniman-seniman media baru. Seni performance, yang awalnya lebih dikenal sebagai bagian dari seni protes di ruang publik dalam bentuk happening art, mulai berkembang. Senimanseniman seperti Arahmaiani dan Iwan Wijono menggunakan seni performance untuk menyampaikan pesan-pesan yang menyoroti isu-isu sosial dan politik yang relevan pada masanya. Dalam bidang yang lebih kompleks, House of Natural Fiber mengembangkan keterkaitan antara seni dengan bidang sains dan teknologi. Masa ini makin menguatkan pandangan bahwa seni rupa tidak hanya menjadi wadah ekspresi kreatif, tetapi juga menjadi medium untuk eksplorasi ilmiah dan teknologi yang berdampak pada pemikiran dan tindakan dalam masyarakat.

7. Seni Pop dan Kampung Global (2005-2015)

Pada periode 2006-2015, budaya populer semakin merasuk dalam praktik seni kontemporer. Langkah awal yang diambil oleh Eddy Hara dengan menggunakan idiom populer seperti kartun dan animasi menjadi inspirasi bagi banyak seniman muda selanjutnya. Mereka tidak hanya mengadopsi gaya populer, tetapi juga dengan lancar melakukan sinergi dengan budaya populer, seperti yang dilakukan oleh seniman Eko Nugroho yang berkolaborasi dengan brand fashion ternama Louis Vuitton.

Di sisi lain, gerakan seniman muda semakin menembus batas-batas dunia global, membentuk apa yang disebut sebagai “kampung global”. Mereka menggunakan teknologi digital dan media internet sebagai alat untuk menjangkau audiens tanpa terbatas oleh batas geografis. Hal ini memungkinkan mereka untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan seniman dan penikmat seni dari berbagai belahan dunia, membawa pandangan lokal mereka ke panggung internasional dan sekaligus menerima pengaruh global dalam karya-karya mereka.

Dari rentetan jejak sejarah ini, kami mengundang karya-karya yang dapat mengikat diri dengan karya-karya para tokoh yang melintasi sejarah seni rupa. Kehadiran karya-karya ini menjadi penanda bahwa pewarisan pengetahuan dan semangat berkarya dalam seni rupa masih berlanjut hingga saat ini, dalam konteks yang semakin berkembang, aktual, dan kontekstual.

Habitat: Loka Carita

Tema Nandur Srawung X kali ini adalah Habitat: Loka Carita. Habitat adalah lingkungan tempat tinggal atau hidup dari suatu organisme atau populasi organisme tertentu. Lingkungan ini mencakup semua komponen fisik dan biologis yang memengaruhi kehidupan organisme tersebut, termasuk unsur-unsur seperti tanah, air, udara, tumbuhan, manusia dan hewan lain, dan kondisi fisik lainnya. Perubahan lingkungan yang dialami manusia tidak lepas dari perilaku manusia itu sendiri dalam hubungannya dengan alam maupun perilakunya secara sosial.



Konsep loka merujuk pada tempat atau lokasi tertentu dalam kebudayaan atau masyarakat tertentu. Loka dapat merujuk pada tempat suci atau tempat yang dianggap sebagai pusat kekuatan spiritual, atau tempat lain yang secara kultural terkait dengan mitos atau cerita dalam kebudayaan setempat. Carita adalah salah satu bentuk sastra lisan tradisional Indonesia yang berasal dari masyarakat Jawa. Istilah “carita” berasal dari bahasa Jawa yang berarti cerita atau kisah. Carita seringkali dibawakan dalam bentuk pembacaan atau pementasan oleh para dalang atau pembaca cerita, dan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti cerita rakyat, legenda, mitos, dongeng, atau kisah-kisah sejarah. Dalam kehidupan masyarakat Carita memiliki peran penting dalam membentuk identitas, mempengaruhi tindakan, mengarahkan pemikiran, meningkatkan keterikatan, dan secara umum berperan dalam menciptakan budaya.



Sebagai penanda 1 dekade Nandur Srawung, pameran ini dirancang untuk menggambarkan ragam tema karya-karya seniman. Ruang pameran utama akan dibagi menjadi 6 bagian, yang masing-masing menyajikan hubungan seni dengan tema-tema besar kemanusiaan, yaitu: spiritualitas, lingkungan (ekologi), identitas & inklusivitas, aktivisme, teknologi, dan kesadaran sejarah (literasi). Pameran diikuti oleh seniman dari berbagai daerah dan negara, dengan bermacam metode dan pendekatan artistik. Beberapa karya dikerjakan melalui metode riset di lapangan lewat Program Nandur Gawe, yaitu di 5 titik situs di Daerah Istimewa Yogyakarta (Kulon Progo, Gunung Kidul, Bantul, Sleman, dan Kodya Yogyakarta) yang berkaitan dengan tema-tema yang terbagi dalam 6 bagian tersebut.

Panggilan Terbuka Seniman Nandur Srawung: 11 Juni – 2 Juli 2024

Dian Anggraini

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Matrix//Mayapada

Nandur Srawung #9

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Ecosystem: Pranatamangsa

Nandur Srawung #8

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Wiwitan: Restart!

Nandur Srawung #7

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Gegayutan:
Peer to Peer

Nandur Srawung #6

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Bebrayan: D.I.W.O

Nandur Srawung #5

[flippingbook width="100%" height="auto" ratio="3:2" title="Welcome Guide to FlippingBook Online"]https://online.flippingbook.com/view/135927645/[/flippingbook]

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Budaya Jogja
Budaya Adiluhung

Nandur Srawung #4

[flippingbook width="100%" height="auto" ratio="3:2" title="Welcome Guide to FlippingBook Online"]https://online.flippingbook.com/view/135927645/[/flippingbook]

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Totem

Nandur Srawung #3

[flippingbook width="100%" height="auto" ratio="3:2" title="Welcome Guide to FlippingBook Online"]https://online.flippingbook.com/view/135927645/[/flippingbook]

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Batik Klasik

Nandur Srawung #2

[flippingbook width="100%" height="auto" ratio="3:2" title="Welcome Guide to FlippingBook Online"]https://online.flippingbook.com/view/135927645/[/flippingbook]

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Nandur Srawung

Rupa-Rupa Seni Rupa #1

[flippingbook width="100%" height="auto" ratio="3:2" title="Welcome Guide to FlippingBook Online"]https://online.flippingbook.com/view/135927645/[/flippingbook]

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Pohon Resan

Jl. Laksda Adisucipto No.62, Tempel, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Resan merupakan sebutan yang lumrah dijumpai di Gunungkidul bagi pohon besar penjaga suatu wilayah, sumber air, situs sejarah atau legenda atau babad, penanda bangunan atau rumah, pasar tradisional, dan petilasan tokoh penting, dan pahlawan lokal atau cikal-bakal. Nama Komunitas Resan diambil dari bahasa Jawa reksa/rekso yang berarti ‘jaga’. Komunitas Resan mengidentifikasi diri mereka sebagai “penjaga” lingkungan Gunungkidul.

Pohon resan seringkali identik dengan tumbuhan khas suatu wilayah, dan keberadaannya lebih dulu sebelum suatu dusun/desa/kampung terbentuk.

Karena hakekat, fungsi, sejarah, dan identitasnya, maka pohon-pohon resan oleh masyarakat dihormati dan dimuliakan dengan ritus dan upacara daur hidup semacam Nyadran dan Rasulan. Resan merupakan golongan utama unsur kehidupan sasamaning dumadi (sesama ciptaan Tuhan). Bersama dengan pohon resan, satwa, dan aneka tumbuhan lain, masyarakat melaksanakan perikehidupan bebrayan agung (persaudaraan alam raya) dalam lingkaran kerukunan, keselamatan, dan kemakmuran.

KONDISI MASYARAKAT

Krisis lingkungan di wilayah Gunungkidul sangat mengkhawatirkan akibat pembangunan dan penambangan yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya krisis air saat kemarau. Adanya krisis identitas masyarakat lokal Gunungkidul juga akhirnya membuat masyarakat sekitar merasa tidak memiliki keterikatan serta rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebagai sebuah respons terhadap keadaan ini, Komunitas Resan berupaya untuk membangun kembali identitas mereka sebagai orang Gunungkidul melalui tradisi, pengetahuan, dan kearifan lokal. KResan Gunungkidul adalah komunitas pecinta “resan” (pohon pelindung), sumber air, dan ilmu pengetahuan lokal, yang anggotanya berasal dari berbagai wilayah dan latar belakang. Komunitas ini merupakan sebuah gerakan swadaya berbasis masyarakat. 

Resan Gunungkidul memiliki kegiatan rutin membibit dan menanam bakal resan. Kegiatan lainnya adalah merawat dan membersihkan sumber air, melaksanakan upacara penghormatan dan pemuliaan pohon resan, nglangse (menyelimuti) resan, mencatat ilmu pengetahuan lokal, melakukan kerja berjejaring bergotong-royong dengan komunitas pecinta lingkungan lain, juga beberapa kegiatan kebudayaan lain seperti olah tani dan berkesenian.

https://crcs.ugm.ac.id/menjadi-wong-gunungkidul-bersama-komunitas-resan/

https://resangunungkidul.com/tentang-kami/

Febri Anugerah

Febri adalah seorang pematung yang telah mengkhususkan diri dalam seni relief selama lima tahun terakhir. Banyak dari upaya relief ini didorong oleh pengetahuan lokal dalam bentuk nasihat Jawa, atau Pitutur.

Eks Pengepul Nila

Ngento, Pengasih, Kulon Progo Regency, Special Region of Yogyakarta 55652.

Bangunan eks Pengepul Nila Bulurejo banyak menyimpan benda purbakala yang mengungkapkan sejarah wilayah Kabupaten Kulonprogo, yaitu mulai dari masa pra sejarah hingga terbentuknya tata pemerintahan di Yogyakarta. Bangunan eks Pengepul Nila Bulurejo didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang menjadi Raja Keraton Yogyakarta antara 1877 – 1921. Bangunan ini merupakan bangunan eks pengepul nila yang dialihfungsikan menjadi museum. Dalam perjanjian Giyanti disebutkan bahwa sultan sebagai penguasa wilayah harus menyediakan beberapa komoditas, salah satunya tom/nila yang digunakan untuk mewarnai pakaian.

Kondisi Situs

Bangunan berupa bangunan rumah limasan dengan kuncungan di bagian depan. Bangunan ini terdiri atas dua bagian yaitu bagian depan kemungkinan berupa ruangan tamu dan bagian kedua berupa kamar-kamar. Ruangan besar yang diduga sebagai ruangan tamu saat ini sering digunakan sebagai ruangan pertemuan bagi warga sekitar. Di depan bangunan terdapat kolam besar berbentuk bulat yang berdiameter sekitar 16,4 meter.

Bangunan cagar budaya seluas 226,2 meter di tanah Sultan Ground ini terkadang dimanfaatkan sebagai bala pertemuan RT Bulurejo. Warga memanfaatkan bangunan karna berada di tengah pemukiman warga yang strategis dan juga karna telah dilakukannya rehabilitasi yang membuat bangunan terlihat semakin baik.

Zuraisa

Zuraisa adalah seorang seniman rupa yang masih aktif sebagai Mahasiswa di ISI Yogyakarta, Indonesia. Ketertarikannya terhadap isu gender, ketubuhan, relasi keluarga dan juga seni ke-islam-an, membawanya pada penciptaan karya dengan eksplorasi media baru.

Eva Ursprung (Austria)

Eva Ursprung tinggal dan bekerja di Graz, Austria. Studi dalam psikologi dan linguistik. Sejak tahun 1986 menjadi seniman dan kurator lepas, bekerja dengan suara, video, dan fotografi konseptual. Instalasi, pertunjukan, dan seni di ruang publik, elektronik, dan sosial. 1998-2003 Kurator seni visual di Forum Stadtpark Graz, sejak tahun 2007 anggota dewan IMA (Institute for Media Archeology), anggota pendiri dan dari tahun 2008-2021 presiden "Schaumbad – Freies Atelierhaus Graz". Proyek, pameran, dan pertunjukan di seluruh Austria, di New York, Los Angeles, Brussels, Rijeka, Pula, London, Nantes, Eindhoven, Milan, Novi Sad, Belgrade, Bonn, Frankfurt, Darmstadt, Bratislava, Manchester, Hull, Gdansk, Bucharest, Madrid, Glasgow, St. Petersburg, Jerusalem, Maribor, Bangkok, Chiangmai, Singapura. Residensi: 1998 Kementerian Kebudayaan Austria di Fujino (JP), 2014 APO33 Nantes (FR), 2015 Kota Judenburg, 2016 Flux Factory, New York (US), 2017 Galerija Eugen K., Brseč (HR); 2020 studio das weisse haus, Vienna (AT); 2021 Flux Factory di Museum ARoS, Aarhus (DK); Kaznice, Brno (CZ); 2022 Artist in Residence Munich, Villa Waldberta (DE).

Jonas Lewek (Germany)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Makam Seniman
Giri Sapto

Tilamat, Wukirsari, Kec. Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55782 https://maps.app.goo.gl/gt1S46wbUL9YtHjt6

Makam Seniman Giri Sapto adalah makam seniman satu-satunya di Indonesia. Situs ini digagas oleh R.M Saptohoedojo. Seniman-seniman penting Indonesia dimakamkan di situs ini. Banyak pusara yang berbeda dan terlihat unik daripada makam biasanya yang dirancang sendiri oleh para seniman saat masa hidupnya. Situs ini memiliki cita-cita yang luhur agar para seniman mendapatkan penghargaan dan penghormatan atas kiprahnya membangun negeri ini dan mengharumkan nama baik Indonesia ke kancah internasional.

Kondisi Situs

Posisi makam seniman ada di sebelah barat Makam Raja-Raja Mataram atau kompleks Pasarean Pajimatan Girirejo, Imogiri, Bantul. 

Untuk dapat memasuki makam seniman, pengunjung  harus melewati pintu gerbang berbentuk lengkung setengah lingkaran berdiameter sekitar 10m.  Gerbang pintu utama tersebut dibuat struktur bertingkat sepuluh teras mengikuti kontur perbukitan. 

Sebagian besar  makam menggunakan jirat dan bahkan berjirat penuh. Makam yang masih belum berjirat terdapat di areal makam sebelah selatan atau dari gerbang utama ke arah kiri, yang memiliki pintu gerbang khusus. 

Candalabs

KELOMPOK CANDA di dirikan pada tanggal 30 April 2017, dengan 6 anggota. Keanggotaan GRAFIS CANDA berawal dari kesamaan visi misi dan rasa persaudaraan, selain itu kami mempunyai latar belakang dalam dunia seni yang sama. KELOMPOK CANDA merupakan kelompok yang begerak di bidang seni murni (LUKIS .GRAFIS, PATUNG) dan juga kekaryaan yang bersifat riset, instalasi dan berbagai hal yang berhubungan dengan seni kontemporer,kebudayaan maupun lokakarya. Selain itu kami berupaya saling berbagi dan mengasah potensi kreatif para anggota. Kelompok Canda sudah melakukan beberapa kegiatan seni. Pameran di Yogyakarta dan luar kota, dan aktif melakukan symposium.

Proyek Benggala

Proyek Benggala merupakan wahana interdisipliner yang digagas oleh Adnan Aditya, Adhi Pandoyo, Awalludin M, dan Rachmad Afandi. Pola-pola kesenian yang bersifat kolaboratif dan interdisipliner, merupakan salah satu hal yang mempertemukannya. Dalam menciptakan karya seni berbasis riset terhadap tradisi benda dan tak benda, kami menafsirkan ulang, mengapropriasi dan mengaktualisasikannya sebagai praktek artistik dengan melibatkan serangkai eksplorasi media. Pada tahun 2021, melalui karya “Dorang: Donga Marang Pangeran” kami menyoroti peralatan cangkul sebagai artefak yang terus digunakan; hal mana beririsan dengan tradisi lisan sebagai: mekanisme pengetahuan yang mapan di dalam masyarakat, sekaligus sebagai representasi simbolik di dalam budaya agraria hingga ideologi dan politik kekuasaan. Pada karya kami yang lainnya, “Keselamatan Wajah Semua Kerinduan” (2020), secara perdana kami merespon peristiwa global, pandemi Covid-19 sebagai pageblug yang sejatinya di dalam konteks lokal, bukanlah hal yang baru di dalam meresponnya. Hal terakhir inilah yang meyakinkan kami bahwa perilaku ritual/ritus merupakan mekanisme wacana dan praksis yang memiliki esensi dasar sebagai doa, dan memiliki wajah performatif yang arbitrer dan kontekstual. Pada tahun 2022, kami terlibat dalam Residensi Kecil Tani Jiwo. Riset kami menghasilkan karya yang menyoroti praktik lokalitas berupa ritual tradisi ruwatan pada masyarakat desa Sikunang, Dieng. Melalui riset sepanjang satu tahun itu, kami berupaya mengaitkan antara mitos dan ritual, dengan pembentukan identitas budaya masyarakat.

Kampoeng Ketandan

Jalan Ahmad Yani, Jalan Suryatmajan, Jalan Suryotomo dan Jalan Los Pasar Beringharjo https://maps.app.goo.gl/i7Fab6JvWduSWtNMA

Kampung Ketandan lahir pada akhir abad 19, sebagai pusat permukiman orang Tionghoa pada zaman Belanda. Pemerintah Belanda kemudian menerapkan aturan pembatasan pergerakan (passentelsel) serta membatasi wilayah tinggal Tionghoa (wijkertelsel). Tetapi dengan izin Sri Sultan Hamengku Buwono II, warga Tionghoa tersebut tetap dapat menetap di tanah yang terletak di utara Pasar Beringharjo ini, dengan maksud turut memperkuat aktivitas perdagangan dan perekonomian masyarakat. Sejak 200 tahun yang lalu daerah ini menjadi tempat masyarakat Tionghoa tinggal dan mencari nafkah, sehingga diakui sebagai kawasan Pecinan kota Jogja.

Kondisi Masyarakat

Sebagian besar penduduk berprofesi pedagang emas dan permata, toko kelontong, toko herbal, kuliner juga berbagai toko penyedia kebutuhan pokok. 

Sejak tahun 2006, setiap menyambut Tahun Baru Imlek, di Kampung Ketandan diadakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Ketandan dihiasi dengan ornamen dan Gapura berarsitektur Tionghoa, berlangsung pula Festival seperti panggung hiburan, seni barongsai, pasar kuliner hingga Pawai Budaya Tionghoa di sepanjang Jalan Malioboro.

M. Yasir

M Yasir lahir di Rimo, 18 September 199. Berasal dari Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Aceh. Lulus S1 di Universitas Negeri Padang dengan program studi pendidikan Seni Rupa. Melanjutkan studi S2 di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Saat kuliah S1 telah aktif berkarya dan mengikuti beberapa pameran lokal dan nasional. Karya-karya yang dibuat adalah lukisan dengan visual surrealisme. Adapun tema- tema yang sering dimuat dalam lukisan adalah tentang fenomena sejarah, realitas kekinian dalam kehidupan sehari-hari baik itu perubahan budaya maupun situasi sosial politik. M Yasir telah beberapa kali mengikuti pameran nasional yang diadakan oleh pemerintah di antaranya Pameran Besar Seni Rupa di Manado tahun 2016, Pameran Sumatera Biennale di Padang tahun 2016, Pameran Nusantara tahun 2017 di Galeri Nasional Indonesia, Pameran Keliling Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Perupa Aceh tahun 2018. Pameran Nusantara 2021 di Galeri Nasionla Indonesia. Pameran International Art Exhibition Dewantara Triennale #2 di Jogja Galeri. Juga aktif mengikuti pameran yang dilaksanakan oleh komunitas-komunitas seni yang di bengkulu, Padang, Aceh, dan Yogyakarta. Pada tahun 2017 meraih juara 1 pameran pemuda se Aceh dan pada tahun sama pula mendapatkan penghargaan dari Bupati Aceh Singkil Sebagai Pemuda berprestasi.

Yalm

Sejak tahun 2017 mulai benar-benar tertarik pada seni rupa. Namun masih mencoba mengembangkan diri sendiri. Mengingat belum mengenal ataupun mengetahui wadah untuk seniman. Lalu pada tahun 2020 melanjutkan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada mengenai berkesenian. Saat ini sedang berdomisili di Yogyakarta.

Pesanggrahan
Ambarrukmo

Jl. Laksda Adisucipto No.62, Tempel, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 https://maps.app.goo.gl/8vHCdJaaDjoRFjeP9

Pesanggrahan Ambarrukmo adalah salah satu Pesanggrahan Kraton Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono V (1823-1855) dan selesai dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921). Pesanggrahan Ambarukmo dulunya merupakan tempat kediaman Sultan Hamengku Buwono VII sesaat setelah beliau turun tahta atau lengser keprabon dan madheg mandhito. Pesanggrahan Ambarukmo juga memiliki kaitan dengan sejarah Kabupaten Sleman. Ketika awal pembentukan Kabupaten Sleman, tempat ini digunakan sebagai kantor pusat pemerintahan Sleman.

Kondisi Situs

Setiap orang bebas memasuki Pesanggrahan Ambarrukmo setelah meminta izin pada petugas dan mengisi buku tamu. 
Terdapat ruangan berisi koleksi foto-foto Sultan Yogyakarta, penjelasan tentang Kraton Yogyakarta, dan replika prasasti Kraton dengan huruf jawa. Terdapat pula buku yang mengulas tentang sejarah Ambarrukmo serta pesanggrahan itu sendiri. 
Di bagian belakang Pesanggrahan Ambarukmo terdapat sebuah kolam yang ditengah-tengahnya terdapat bangunan berlantai dua khas bangunan Eropa.

Smiha Kapoor (India)

Smiha Kapoor (lahir 1997) adalah seorang seniman dan fasilitator asal India yang saat ini berbasis di Singapura. Pendekatannya dalam menciptakan karya seni visual bersifat berpusat pada kinerja melalui mana ia memperluas hal-hal pribadi ke dalam ranah gambar, instalasi, dan media berbasis gambar. Terinspirasi oleh performativitas dalam kehidupan sehari-hari, yang berakar dalam estetika dan ikonografi pribadi, ia dengan bermain-main mengkaji gagasan-gagasan tentang penjelmaan dan praktik-praktik tubuh yang memiliki lapisan-lapisan dalam simbolisme sosial, budaya, dan spiritual.

Karina Roosvita

Karina Roosvita (lahir di Yogyakarta, 2 Maret 1978) adalah seorang seniman, pendongeng, dan pendidik, yang karyanya bersinggungan dengan sejarah lokal dan masyarakat, mitologi dan kaitannya dengan isu-isu sosial, gender, dan lingkungan. Roosvita belajar mendongeng secara formal di Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, 2003 dan belajar Kajian Budaya di Media and Cultural Studies, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2010. Roosvita juga merupakan penerima beasiswa Unggulan pada tahun 2012.

Penanganan
Karya Seni

Didampingi oleh beberapa praktisi baik itu dari kurator, disainer pameran maupun praktisi penangan seni dan seniman yang mempunyai keahlian khusus di penanganan seni, maka para partisipan akan belajar dan bekerja bersama secara praktek langsung mengenai:
- Prosedur penanganan karya seni
- Pembangunan tatanan dan instalasi sebuah pameran seni
- Pemasangan karya seni di ruang pamer
- Prosedur pengemasan dan pengiriman karya seni

Profil Pengampu Kelas

Soga Studio adalah studio khusus untuk penanganan seni yang berbasis di Yogyakarta yang didirikan oleh Janu Satmoko, seorang art handler profesional dengan pengalaman bertahun-tahun di bidang seni rupa lokal, nasional, dan internasional. Pada aktivasi program kali ini, Soga Studio diwakili Alwan Setiawan, art handler profesional yang juga telah malang melintang di bidang art handling seni rupa nasional dan internasional. Fokus Soga Studio pada pengelolaan, perawatan, dan penyajian karya seni dengan profesional menjadikannya solusi bernilai bagi penanganan dan presentasi karya-karya seni rupa.

Peserta Kelas

Amalia Zahra
Anisyah Padmanila Sari
Aulia Salsabila
Dosdo Noel Tobing
Farras Aldinata Charis Subandi
Khairun Nisa Anjani
Laurensia Dhamma Viriya
Moh. Kholilur Rahman
Mohammad Ikhya
Muhammad Abdul Aziz
Muhammad Gelar Paundrahanutama
Najib Ismail
Robby Ikma Jatti
Ryan Bayu Pamungkas

Rancang Bangun
Pameran Seni

Didampingi oleh praktisi berpengalaman, para partisipan akan terjun langsung untuk bersama-sama merancang sebuah perhelatan Pameran Seni. Partisipan akan dibekali oleh: - Mempelajari rancang bangun melalui perangkat lunak
- Merancang berdasarkan kebutuhan sebuah pameran
- Melakukan rancang bangun kebutuhan tampilan pameran (display, lighting, tata ruang)
- Melakukan kerja praktek di lapangan tatanan dan instalasi sebuah pameran

Profil Pengampu Kelas

Zulfian Amrullah adalah seorang seniman yang lahir pada tahun 1982 di Pontianak. Setelah menyelesaikan studi arsitekturnya di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2006, dia kemudian tinggal dan bekerja di biro desain lansekap di Singapura. Sejak akhir tahun 2013, ia kembali tinggal di Yogyakarta dan aktif terlibat di beberapa program seni rupa. Zulfian Amrullah juga dikenal sebagai Co-Artistic Director ARTJOG, yang menunjukkan dedikasinya terhadap pengembangan dan pengaturan aspek artistik sebuah pameran seni. Latar belakang ilmu arsitektur memberinya keterampilan dan pengetahuan dalam merancang dan mewujudkan bangunan dan lingkungan yang fungsional dan estetis. Pada tahun 2013, ia mulai aktif terlibat dalam program residensi seni, pameran seni rupa, dan seni pertunjukan. Beberapa pameran dan pertunjukan yang telah diikutinya adalah "Earth Manual Project Exhibition 2013" di Design and Creative Center Kobe, Jepang, dan "Planet Kesebelas" di Teater Amarta, Kedai Kebun Forum, Yogyakarta.

Peserta Kelas

Abidzar Afif
Afiqoh Qurratu’Aini
Ahmad Adi Nugroho
Alieneta Firdausi
Ilham Syaifullah
Muhammad Vava Almu’in
Ridho Dwi Cahyo
Stella Rossa Zarifa Sholihah

Pesanggrahan
Ambarrukmo

Jl. Laksda Adisucipto No.62, Tempel, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Profil Seniman Residensi 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Penulisan Proposal
Pameran Seni

Untuk mewujudkan sebuah pameran seni, maka diperlukan sebuah ide dan gagasan yang dapat dituangkan ke dalam bentuk rancangan tertulis. Sebuah proposal tidak hanya berfungsi dan memiliki kegunaan dalam merancang sebuah perhelatan seni, namun juga dapat berguna bagi individu dalam pengembangan karyanya. Pada sesi ini maka akan diadakan sebuah inkubasi dimana para partisipan akan dibimbing oleh para praktisi yang memiliki keahlian khusus di bidang ini. Adapun lingkup inkubasi penulisan proposal ini meliputi:
- Menggubah sebuah gagasan dan merujuk menjadi sebuah tema
- Pembuatan kerangka dasar proposal
- Pembagian ranah ranah manajerial sebuah proposal
- Penulisan proposal
- Perincian dan detil detil khusus sebuah proposal
- Penyusunan proposal secara artistik

Profil Pengampu Kelas

Irene Agrivina adalah seorang perupa, teknologis, dan kurator yang bekerja di ranah seni, sains, dan teknologi. Sebagai salah satu pendiri House of Natural Fiber (HONF) sebuah laboratorium terpadu dan juga XXLab, kolektif perempuan dan non binary yang berfokus pada seni, sains, dan teknologi bebas, Irene terlibat dalam berbagai proyek kolaboratif yang lintas-disiplin dan multimedia, sebagai respons terhadap tantangan-tantangan sosial, budaya, dan lingkungan. Dia telah memberikan kuliah singkat maupun lokakarya di berbagai universitas bergengsi dan karya-karyanya telah dipamerkan secara internasional, termasuk dalam acara-acara bergengsi seperti New Museum, New York di US, IFVA New Media Art Festival di Hong Kong , 5th Anyang Public Art Project di Korea Selatan, Ars Electronica Festival di Linz, Austria, dan Pixelache Festival di Helsinki, Finlandia dan lain sebagainya. Pada tahun 2019, Irene Agrivina dipilih oleh Asialink, sebuah lembaga di Australia sebagai salah satu dari enam wanita pionir dari Asia Tenggara dan Australia. Pengakuan ini menyoroti kontribusi signifikan yang telah diberikan olehnya dalam berbagai bidang, serta peran pentingnya dalam memajukan kolaborasi dan inovasi lintas disiplin.

Peserta Kelas

Aji Bayu Kusuma
Alma Naya Kamila
Annisa Fitri
Azka Rafa Nadira
Beniguus Fajar Gupita
Darryl Haryanto
Dayang Nimpuna
Dewanty Ajeng Wiradita
Dionisius Maria Caraka Ageng Wibowo
Elsse Melanti
Eugenia
Gusnawang Abdullatif
Lintang Pertiwi
M.Alif Wicaksono
Muhammad Rizqon Febriansyah
Nurul Fajri Kusumaningrum
Rangga Mahesa Putra
Siti Syahmina Budiarso
Smita Parama
Syeifty
Taufiqur Rohman Choirunnas
Yosephine Febe

Profil Seniman

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Nama Seniman

Judul Karya

Lorem ipsum
20 x 20
2023

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.